ANALISA KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) DI DAS NGROWO

Chintya Ayu Permata Herdita, Donny Harisuseno, Ery Suhartanto

Abstract


Kekeringan sering terjadi di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek. Analisis kekeringan dilakukan guna mengetahui tingkat kekeringan serta sebarannya. Metode yang digunakan adalah Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Kemudian indeks kekeringan dibandingkan dengan dengan fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation) menggunakan pola data Indeks Osilasi Selatan (SOI). Hasil perhitungan kekeringan yang paling sesuai dengan pola data SOI kemudian dibuat peta sebaran kekeringan menggunakan interpolasi Kriging dengan Program ArcGIS 10.5. Metode SPI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2000 periode defisit 3 bulanan sebesar (-5.14). Metode EDI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2001 periode defisit 12 bulanan sebesar (-2.91). Analisis kesesuaian menunjukkan pola pembacaan kekeringan metode EDI lebih menunjukkan kemiripan secara visual grafik surplus dan defisit terhadap nilai SOI. Secara kuantitatif nilai persen kesesuaian serta nilai korelasi dan determinasi EDI juga memberikan nilai yang lebih besar terhadap kejadian ENSO dibandingkan metode SPI. Peta sebaran kekeringan digambarkan bedasarkan trend tahun-tahun kejadian kekeringan terparah. Hasil interpolasi pada peta menunjukkan kesesuaian hasil analisa dengan wilayah desa yang sering terdampak kekeringan di DAS Ngrowo.

Drought is a condition that is common in Tulungagung and Trenggalek regency. Drought analysis is performed in order to have information about level of drought and its distribution. Drought analysis method will be used are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). Then the drought index compared to the ENSO (El Nino Southern Oscillation) phenomenon using the South Oscillation Index (SOI) data pattern. The results of the drought calculations are most in line with the SOI data pattern will be drawn on the drought distribution map using Kriging interpolation with the ArcGIS 10.5 Program. The SPI method produced the most severe drought in 2000 on a 3 month deficit period (-5.14). The EDI method produced the most severe drought in 2001 on a 12 month deficit period (-2.91). Conformity analysis shows the drought pattern of the EDI method is better at showing a visual similarity of the surplus and deficit graphs to the SOI value. Quantitatively based on the value of percent suitability and the value of correlation and determination of EDI also gives a greater value to the ENSO event than the SPI method. The drought distribution map is drawn based on the trend of the worst drought years. The interpolation results on the map show the suitability of the analysis results with the village areas that are often affected by drought in the Ngrowo watershed.


Keywords


kekeringan meteorologi; Standardized Precipitation Index (SPI); Effecive Drought Index (EDI); indeks kekeringan; peta sebaran kekeringan

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.