PENURUNAN PERMEABILITAS AKIBAT BIOCLOGGING PADA BUTIRAN BATU APUNG DAN SKORIA

Audy Arkanta Wicaksono, Emma Yuliani, Andre Primantyo H

Abstract


ABSTRAK: Gunung Kelud di Kabupaten Blitar, Jawa Timur merupakan salah satu Gunung Api di Indonesia yang mempunyai material apung dan skoria yang jumlahnya berlimpah dan masih kurang untuk pemanfaatannya. Penelitian ini didasarkan pada gagasan rekayasa geoteknik perbaikan karakteristik pada butiran apung dan skoria yaitu dalam hal perbaikan penurunan permeabilitas dengan bioclogging yang diyakini dapat menyebabkan penyumbatan pada lubang pori akibat slime atau ikatan ekspolisakarida yang diproduksi oleh bakteri Lactobacillus Sakei dan Bacillus Subtilis. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan variasi pada jenis batuan, gradasi butiran, kerapatan relatif, dan jenis bakteri dengan jumlah 8 sampel tanpa bakteri, 8 sampel dengan Lactobacullis Sakei, dan 8 sampel dengan Bacillus Subtilis. Sebagai hasilnya, butiran apung dan skoria tanpa bakteri untuk karakteristi fisik tergolong pasir bersih bergradasi baik (SW) berdasarkan USCS dan tergolong pasir halus (A-1-b) berdasarkan AASHTO. Hasil karakterstik mineralogi pada uji SEM-EDX dan XRD butiran apung dan skoria mempunyai unsur dominan Si dan Al dan mempunyai senyawa dominan berupa anorthite Ca(A12Si2O8). Hasil pengujian permeabilitas tanpa bakteri adalah 0,00035 – 0,0351 cm/det, hasil dengan bioclogging menggunakan Lactobacillus Sakei antara 0,00018 – 0,0218 cm/det dan hasil dengan Bacillus Subtilis mempunyai nilai permeabilitas yang lebih kecil antara 0,000112 - 0,0195 cm/det. Hasil Porsentase penurunan permeabilitas terbesar akibat bioclogging pada sampel Bacillus Subtilis adalah 82,957% dan padacsampel Lactobacillus Sakei adalah 73,019% dengan kesimpulan bakteri Bacillus Subtilis mempuyai pengaruh yang lebih besar dalam penurunan permeabilitas dibandingkan Lactobacillus Sakei.

 

Kata kunci : Permeabilitas, Bioclogging, Butiran Apung, Butiran Skoria.

ABSTRACT : Mount Kelud in Blitar Regency, East Java is one of the volcanoes in Indonesia that has pumice and scoria material that the amount is abundant and is still lacking for its use. This research is based on the idea of ​​geotechnical engineering to improve the characteristics of chrused pumice and scoria in terms to reduce the permeability with bioclogging which is believed can cause of clogging in the pores because of slime or expolisaccharide bonds that produced by Lactobacillus Sakei and Bacillus Subtilis bacteria. This research was conducted by variations in rock types, grain grading, relative density, and types of bacteria with a total of 8 samples without bacteria, 8 samples with Lactobacullis Sakei, and 8 samples with Bacillus Subtilis. As a result, crushed pumice and scoria without bacteria for physical characteristics are classified clean graded sand (SW) based on USCS and classified as fine sand (A-1-b) based on AASHTO. Mineralogical characteristics results on SEM-EDX and XRD tests on crushed pumice and scoria have dominant elements Si and Al and have a dominant compound in the form of anorthite Ca (A12Si2O8). The results of permeability testing without bacteria are 0,00035 – 0,0351 cm/sec, the results with bioclogging using Lactobacillus Sakei are between 0,00018 - 0.0218 cm/sec and the result with Bacillus Subtilis have a smaller permeability value between 0,000112 - 0 , 0195 cm/sec. The results of the biggest percentage of permeability reduced due to bioclogging in the Bacillus Subtilis sample are 82,957% and in the Lactobacillus Sakei sample are 73,019% with the conclusion that the Bacillus Subtilis bacteria had a greater effect on reducing permeability compared to Lactobacillus Sakei.

 

Keywords : Permeability, Bioclogging, Crushed Pumice, Crushed Scoria


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.