ANALISA EROSI DAN SEDIMENTASI BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) PADA BAGIAN HULU DAS CILIWUNG KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT

Muhamad Zakaria Razianto, Ery Suhartanto, Jadfan Sidqi Fidari

Abstract


ABSTRAK : Aktivitas alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan arahan fungsi kawasan berdampak buruk bagi ekosistem pada DAS Ciliwung. Bencana longsor, pendangkalan pada dasar sungai akibat sedimentasi dan banjir dengan kandungan lumpur pada bagian hilir sering terjadi pada DAS Ciliwung. Untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada DAS Ciliwung perlu dilakukan usaha konservasi dengan metode tata guna lahan baru (skenario) dan penentuan lokasi checkdam pada bagian Hulu DAS Ciliwung. Penelitian dengan model ArcSWAT 2012 bertujuan untuk menghitung besarnya limpasan, erosi dan sedimentasi yang terjadi pada DAS Ciliwung Hulu. Proses kalibrasi menggunakan tahun 2007, 2011, 2013, verifikasi pada tahun 2014 dan hasil eksisting pada tahun 2015. Hasil simulasi pada kondisi eksisting menunjukan besarnya limpasan rata – rata 140.84 mm/tahun, erosi rata – rata 66.28 ton/ha/tahun dan sedimentasi rata – rata 43143.41 m3. Kondisi tersebut menunjukkan tingkat kekritisan lahan pada DAS Ciliwung Hulu dengan kriteria semi kritis seluas 925.47 ha (6.31% luas DAS), kritis seluas 8662.5 ha (57.37% luas DAS) dan super kritis seluas 5510.88 ha (36.5% luas DAS). Dengan usaha konservasi tata guna lahan baru dalam kurun waktu 15 tahun dapat menurunkan limpasan sebesar 30.51%, erosi sebesar 54.69% dan sedimentasi 66.55%. Dalam kurun waktu 1 tahun efektivitas penanganan sedimentasi dengan usaha konservasi tata guna lahan baru (skenario) sebesar 4.36% dan checkdam sebesar 8.56%.

 

Kata kunci : Perubahan tata guna lahan, ArcSWAT 2012, Limpasan, Erosi, Sedimentasi

 

ABSTRACT : The activity of land conversion which was not in accordance with the direction of the function of the area has a negative impact on the ecosystem in Ciliwung Watershed. The landslide, sedimentation at the bottom of the river due to silting and flooding with mud content on the downstream often occurred in Ciliwung Watershed. To solve the problems occurring in Ciliwung Watershed, conservations should be carried out with new land use methods (scenarios) and determination of checkdam sites in the upstream of Ciliwung Watershed. ArcSWAT 2012 model is used in aims to calculate the amount of runoff, erosion and sedimentation occurred in upstream of Ciliwung Watershed. Land use in 2007, 2011 and 2013 were used for the calibration, verification process was done with 2014 and 2015 was used for the existing result. Simulation results on existing conditions shows an average runoff rate of 140.84 mm/year, average erosion rate of 66.28 ton/ha/year and average sedimentation rate of 43143.41 m3. The condition showed the critical level of land in upper watershed of Ciliwung with semi – critical criteria covering 925.47 ha (6.31% of watershed area), critical area of 8662.5 ha (57.37% of watershed area) and super critical area of 5510.88 ha (36.5% of watershed area). With the conservation of new land use within 15 years could decrease runoff by 30.51%, erosion of 54.69% and sedimentation 66.55%. within a period of 1 year the effectivity of handling sedimentation with new land use conservation (scenarios) of 4.36% and checkdam of 8.56%. 

Keywords: Land use changes, ArcSWAT 2012, Watershed, Run off, Erosion, Sedimentation


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.